Di batas senja aku menantimu
dari sudut kereta berlabu di stasiun dermaga aku menyaksikan satu
persatu jutaan warna,ketika aku duduk mendekapi ratapanku. seolah kunang ingin
menghibur malam dalam panca indra
penglihatan.
ku seka mata ini,dalam bisikan kalimat allah berharap senjakan berhenti melandasi
hatiku.dengan berjuta kunang menghibur sukma dadaku.tanpa perlu aku menoleh
untuk meletakan satu cahaya kunangnya.
Larut menyusup sajadha di bentangan bumi. tangan menadah
,tetes berdenyut dalam cerita hati yang menjahit alur sampai akhir ke
ikhlasan.betapa pilu hatinya,ketika kecewa merenggut ubun-ubun dan hentakan
berdendang di telinga menyalurnya dalam ingatan dan mentransfer itu lewat
perasaan sehingga melahirkan kata”penyesalan”dengan kekuasaan allah aku
mewadahnya. dengan air yang ku siram dan menjadi semua taman-taman surgaku.
Pergilah seperti perbatasan hulu dan hilir agar aku tak
melihatmu di sepanjang jalan perahu yang
ku kendarai,karena aku tak cukup mampu untuk membawa engkau di sepanjang jalan
ini yang akan menusuk kakimu yang
lembut itu.bukan engkau tak menjalani layar perahunya,bukan pula rasa ego yang
menguat diantara kita.namun ini adalah sebuah alasan dari allah yang tidak menginginkan kita
mengendarai bersama.karena allah mempunyai caranya sendiri untuk dapat kita meraih cinta alah itu.dan ini yang
terbaik untuk melayarkan sediri perahu
kita agar bisa menemui titik hulu dan hilirnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar