C'ttatil:shiwie
Di perjalanan subuh 05:00
Ayah...ibu
Bias-bias cahaya mulai terbingkai saat
engkau mengantarkanku pergi, namun derau keheningan masih tergores rapi,
walaupun engkau hapus dengan untaian nasehat diri. Keheningan masih tergambar jelas. Ayah sudah siap diatas motornya dan
samar kupandang wajahmu saat roda-roda motor mulai berputar jauh tapi tatapan mu yang penuh cinta dalam dua bola
matamu yang penuh doa terlihat terang seterang bulan diangkasa semakin pekat
malam semakin tampak terang membuatku ingin tetap terus berada disampingmu.
Sepanjang perjalanan ini bu, bulan terus
kupandangi sejauh jaraknya antara kau
dan aku selalu kuseru dalam hatiku berharap kau bisa tau bahwa aku ada disini bu. ayah melaju motornya cepat seingga
pohon-pohon tinggi yang kulihat berganti gedung-gedung yang menjulang. Kerlip
lampu kota, lalu lalang kendaraan mengantar pasar pagi . hah! Aku semakin dekat
semakin jauh. Lantunan ayat-ayat suci terdengar jelas dari masjid yang
termasyur di kota ini, suaranya menentramkan hati sekaligus mengecamuk rindu
pada Ilahi tesadar ampera sudah di depan mata di ujung jembatan sana sudah
menunggu mobil yang akn mengantarkanku, hatiku makin tertunduk memikirkanmu ibu
juga keakbaran tuhan yang semakin kuat menggetar hatiku
“ jibril berkata kepada Muhammad
hiduplalh sesukamu tapi engkau pasti mati, berbuatlah sekehendakmu tapi engkau
pasati dibalas, dan cintailah siapapun yang kau mau tapi engkau pasti berpisah
denganya”
Benar bu, kemarin kita bersama dan
sekarang kita berpisah. ku ucap bismillah sebelum kunaikan kakiku kedalam
mobil. Ayah masih menungguiku dibelakang bersama motor andalanya ia bunyikan
klakson tanda ucapan selamat jalan, ku anggukan kepalaku seiring mobil yang
mulai melaju, ampera itu masih terpaku
dalam pandanganku motor ayah perlahan menghilang diatas jembatan tua yang penuh
sejarah. Kupaliingkan wajahku , bu perjalan ini cukup jauhh seiring doaku yang
tak pernah berhenti menndoakanmu
Wahai kedua orang tuakuu sesungguhnya
ini hanyalah perpisahan dalam tempo yang singkat akan datang suatu masa sebuah
perpisahan yang begitu panjang
butir-butir air mata menggenang dipeluuk mata. terpejam sesaat kuatkan hati
meskipun kegundahan mengguncang lantaran kata-katra sendiri.
Ayah
ibu kutingggalkan kalian tuk sementara sumgguhtak ada rasa khawatirku pada kalian bukan karena aku
tak sayang tapi lebih dari itu kalian berada dalam pengawasan yang baik Allah
mencintai kalian bahkan cintaku tak mampu melebihi cintaNya dan aku lega karena
kalian berada dalam penjagaanya karena dia sebaik-baik penjaga maka kau yakin
kalin akan baik-baik saja
“tiap-tiap yang berjiwa pasti akn mati.
dAn sesungguhmya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu, barang siapa
yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan kedalam surga sungguh ia telah beruntung kehidupan ini
tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya ( QS. Al_Imron:185)
Ayah ibu sebenarnya yang lebih mengkhawatirkanku
adalah kehidupan akhirat sana dan tak ada yang menggembirakanku melainkan nama
kalian menjadi daftar calon penghuni surga. Oleh karena itu harapku adalah
kalian menjadi hamba yang dicintainnya lalu masuk kedalam rombongan-rombongan
oramg-orang yang bertaqwa dan memperoleh janji Tuhan yaitu surga
Ayah ibu janganlah engkau berkecil hati
lantaran dosa yang terlampau tinggi karena ampunan Allah melebihi bumi janganlah
takut untuk melangkah karena Allah senantiasa bersama hambanya dan jangan ragu
untuk memperoleh surga karena sesungguhnya surga itu dekat
Ayah ibu raihlah surgamu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar